Selasa, 27 Oktober 2020

Pandemi Virus Corona Tingkatkan Sindrom Patah Hati, Begini Penjelasannya

Sebuah studi menyebutkan bahwa pandemi bisa memicu sindrom patah hati.

Rima Sekarani Imamun Nissa
cloud_download Baca offline
Ilustrasi perempuan patah hati. (Shutterstock)
Ilustrasi perempuan patah hati. (Shutterstock)

Dewiku.com - Sebuah penelitian yang diterbitkan pada Jumat (10/7/2020) pekan kemarin di JAMA Network Open menemukan adanya peningkatan signifikan dari sindrom patah hati selama pandemi. Para pasien menunjukkan bahwa stres fisik, sosial dan ekonomi dari pandemi punya andil besar.

Para peneliti sudah mengonfirmasi dalam beberapa tahun terakhir bahwa sindrom ini disebabkan stres ekstrem yang benar-benar menghancurkan hati seseorang.

Sindrom yang secara medis dikenal sebagai kardiomiopati takotsubo ini menyebabkan melemahnya ventrikel kiri, yakni pemompa utama jantung.

Melansir dari CNN, kardiomiopati diinduksi stres atau sindrom Takotsubo, muncul seperti serangan jantung tapi dipicu oleh peristiwa stres, bukan penyumbatan dalam aliran darah. 

Ilustrasi patah hati. (Unsplash/Kelly Sikkema)
Ilustrasi patah hati. (Unsplash/Kelly Sikkema)

Studi ini mengamati 1.914 pasien dari lima periode dua bulan yang berbeda, termasuk sampel lebih dari 250 pasien yang dirawat di rumah sakit pada bulan Maret dan April, yakni selama puncak awal pandemi. 

Studi ini menyimpulkan bahwa peningkatan kemungkinan terkait dengan tekanan psikologis, sosial, dan ekonomi yang disebabkan pandemi seperti karantina yang dipaksakan, kurangnya interaksi sosial, aturan jarak fisik yang ketat, serta konsekuensi ekonomi dalam kehidupan masyarakat.

Ilustrasi perempuan stres atau depresi. (Shutterstock)
Ilustrasi perempuan stres atau depresi. (Shutterstock)

"Pandemi telah menciptakan lingkungan paralel yang tak sehat," ungkap Dr. Ankur Kalra, ahli jantung yang memimpin penelitian terkait. 

"Kami telah melihat peningkatan kematian non-corona dan penelitian kami mengatakan bahwa stres kardiomiopati telah naik karena stres yang diciptakan pandemi," katanya kemudian. 

Namun, penelitian baru ini tak memeriksa apakah ada hubungan antara sindrom patah hati dan stres karena memiliki virus corona atau menyaksikan kerabat yang menderita penyakit tersebut. 

Para pasien dalam penelitian ini diuji untuk Covid-19 dan tak satu pun dari tes mereka yang kembali dinyatakan positif. (*Fita Nofiana)

Terkait

Terkini