Sabtu, 26 September 2020

Dompet Terus Menipis, Kisah Sugar Baby Bertahan Hidup saat Pandemi Covid-19

Sugar baby ini mengaku sebelumnya bisa mendapatkan sekitar Rp14 juta per bulan. Namun, kini dia mencemaskan ancaman krisis keuangan.

Rima Sekarani Imamun Nissa
cloud_download Baca offline
Ilustrasi belanja bulanan. (Unsplash/Frankie Cordoba)
Ilustrasi belanja bulanan. (Unsplash/Frankie Cordoba)

Dewiku.com - Pandemi virus corona berdampak pada segala sektor, mulai dari kesehatan, ekonomi, hingga pendidikan. Penyebaran virus ini bahkan membuat kehidupan sugar baby berubah drastis.

Melansir Insider, Jumat (17/4/2020) lalu, mahasiswi 20 tahun asal New Orleans, Amerika Serikat yang enggan menyebutkan namanya, menceritakan kisahnya menjadi sugar baby demi membiayai tagihan sehari-harinya.

Sebagai seorang sugar baby, sang mahasiswi biasa menawarkan jasanya untuk menemani kencan seorang sugar daddy. Atas jasanya tersebut, dia mendapat imbalan hadiah seperti uang saku mingguan, liburan, dan makan malam.

Biasanya, dia akan mengunjungi dua kliennya secara teratur dan mengumpulkan uang saku selama kencan makan malam. Rata-rata ia bisa mendapatkan 900 dolar Amerika Serikat atau setara Rp 14 juta per bulan.

Ilustrasi belanja di mal [shutterstock]
Ilustrasi sugar baby belanja di mal. [shutterstock]

Namun, pandemi membuat kliennya menghadapi tekanan keuangan dan masalah medis yang otomatis membikin dia lebih sulit untuk mendapatkan penghasilan dan membayar sewa.

"Saya mungkin harus mengambil pekerjaan tambahan lain atau berpotensi membawa virus ke tempat lain jika orang itu tidak peduli, tetapi saya juga benar-benar tidak ingin melakukan itu," kata dia kepada Insider.

Biasanya, dengan sugar dady yang berbasis di New Orleans, keduanya akan berkencan di tempat umum sebelum kembali ke rumahnya. Sesi-sesi ini dapat berlangsung dari 45 menit hingga tiga jam.

Hanya saja, kliennya belum lama ini mengetahui bahwa sang sugar baby mengalami gangguan kekebalan karena kondisi medis yang baru didiagnosis. Dengan merebaknya virus corona baru, yang belum ada pengobatan, klien bersangkutan jadi takut tertular atau menularkan ketika bertemu dengannya.

Meskipun si sugar baby belum menunjukkan gejala coronavirus, penelitian menunjukkan orang-orang yang tidak menunjukkan gejala juga harus waspada karena dapat membawa dan menyebarkan virus.

Pasangan berhubungan seks dalam mobil tentu memiliki sensasi yang berbeda. (Shutterstock)
Ilustrasi pasangan di dalam mobil. (Shutterstock)

Jadi,  sang sugar baby kini membatasi kontak dengan kliennya karena risiko medis dan itu membuatnya lebih sulit untuk menghasilkan uang.

"Tidak akan aman bagi kita untuk mengadakan pertemuan dalam waktu dekat, jadi itu akan sulit," kata dia.

Walau mengaku khawatir tentang kesehatan sugar daddy, mahasiswi tersebut mengatakan lebih peduli dengan krisis keuangan yang akan datang.

Dia harus tetap terisolasi dan mengambil cuti kerja untuk berbicara dengan dokternya. Di sisi lain, dengan ekonomi global yang bergejolak, sugar daddy yang selama ini diandalkan mungkin tidak memiliki kelebihan uang untuk sugar baby sepetinya lagi.

"Jika dia tidak dapat menyelesaikan pekerjaannya, dia tidak akan memiliki jumlah berlebih dalam anggaran untuk dibelanjakan pada hal-hal yang sifatnya untuk senang-senang," tuturnya.

Biasanya, jika bisnisnya sedang kering, dia akan beralih online ke situs web sugaring untuk menemukan klien lain di daerah tersebut. Namun tidak seperti kencan online atau kerja seks virtual, menjadi sugar baby sebagian besar membutuhkan pertemuan langsung untuk membangun hubungan yang dinamis dengan kliennya.

"Ketika saya melakukan pertemuan awal, saya bakal memilih daerah yang ramai dan saya akan memakai sesuatu yang terdeteksi," katanya.

Sayangnya, New Orleans baru-baru ini mengumumkan bahwa kota itu akan menutup semua bar dan membatasi semua restoran untuk mencegah penyebaran virus Corona Covid-19. (*Bimo Aria Fundrika)

Terkait

Terkini