Sabtu, 21 September 2019

Mengapa Banyak Orang Takut Jadi Jomblo? Begini Penjelasannya

Banyak orang ketakutan menyandang status jomblo.

Rima Sekarani Imamun Nissa
Sedih karena susah move on dari mantan. (Unsplash/Anthony Tran)
Sedih karena susah move on dari mantan. (Unsplash/Anthony Tran)

Dewiku.com - Banyak orang yang menganggap menyandang status jomblo adalah hal yang sangat menyedihkan dan memalukan. Para jomblo juga seringkali dianggap nelangsa dan tidak bahagia.

Berbagai label negatif yang menempel pada orang jomblo tanpa sadar dapat menanamkan ketakutan tak beralasan. Akhirnya, berbagai cara dilakukan agar memiliki pasangan. Tidak penting mau cinta atau tidak, pokoknya asal jangan jomblo saja.

Melansir Hellosehat, istilah jomblo untuk menggambarkan orang-orang yang tak punya pasangan hidup sebetulnya sudah ada sejak tahun 1993. Namun, pergeseran makna ke arah negatif baru semakin populer di era 2000an.

Sekarang, mereka yang berstatus single bahkan kerap menjadi bahan olokan karena dianggap tidak laku di pasaran. Jomblo seolah menjadi aib yang begitu memalukan.

Para ahli menyebut fenomena takut jadi jomblo dengan istilah singlism. Dalam penelitian yang dilakukan Spielmann dkk pada 2013 lalu, sindrom takut jomblo diartikan sebagai perasaan khawatir, cemas, dan sulit menjalani hidup ketika tidak mempunyai pasangan.

Ilustrasi (shutterstock)
Ilustrasi cemas jadi jomblo. (Shutterstock)

Penelitian terkait sindrom takut jomblo itu telah dipublikasikan dalam Journal of Personality and Social Psychology. Fenomena ini dapat dialami oleh siapa saja, baik mereka yang tidak sedang punya pacar, belum pernah mempunyai pasangan, bahkan bagi yang sedang menjalani hubungan romantis.

Bagi mereka yang telah mempunyai pasangan, sindrom singlism menimbulkan kecemasan berlebihan soal kemungkinan hubungan kandas. Kekhawatiran yang ada kemudian membuat orang tersebut mati-matian bertahan, bahkan walau nyatanya sama sekali tidak merasa bahagia atau malah terjebak dalam hubungan tidak sehat.

Selanjutnya ketika hubungan terpaksa berakhir, bagi mereka lebih baik menurunkan standar untuk mendapatkan orang baru dibanding harus hidup sendiri. Mereka tidak mau lama-lama menjadi jomblo.

Jika Anda mulai ketakutan dengan status jomblo secara berlebihan atau tanpa alasan jelas, coba alihkan perasaan dan pikiran negatif dengan melakukan kegiatan positif untuk memperbaiki mood.

Ilustrasi putus cinta (Shutterstock).
Ilustrasi putus cinta. (Shutterstock)

Tidak apa-apa menikmati hidup sendiri sambil terus mencari belahan jiwa terbaik tanpa mesti dikejar waktu. Ingatkan diri sendiri bahwa Anda tetap dapat bahagia walau tidak punya pacar atau pasangan.

Bagaimanapun, mendapatkan kebahagiaan adalah tanggung jawab diri sendiri, bukan karena merasa dibebani pandangan orang lain. Orang lain juga tak bertanggung jawab untuk membahagiakan Anda,

Namun jika rasa cemas menjadi jomblo itu sudah sampai mengganggu aktivitas sehari-hari, sebaiknya segera bicarakan bersama psikolog atau psikiater untuk mencari bantuan.

Terkait

Terkini