Rabu, 22 Mei 2019

Perokok dan Penggemar Olahraga Cenderung Banyak Pasangan, Kok Bisa?

Bagaimana mereka bisa cenderung banyak pasangan?

Rima Sekarani Imamun Nissa
Banyak berkeringat setelah olahraga bisa menyebabkan bau badan. (Unsplash/Sarah Cervantes)
Banyak berkeringat setelah olahraga bisa menyebabkan bau badan. (Unsplash/Sarah Cervantes)

Dewiku.com - Apakah kamu punya hobi olahraga? Jika tidak, siapa yang termasuk perokok aktif? Baru-baru ini, sebuah studi menyebutkan jika keduanya membuat seseorang cenderung punya banyak pasangan.

Perempuan yang rutin berolah raga ternyata tak hanya memberi dampak positif pada kesehatan, tapi juga berefek langsung pada urusan ranjang. Percaya atau tidak, menurut BMJ Sexual & Reproductive Health, perempuan yang berolah raga lebih mudah terangsang ketimbang mereka yang tidak. Hal ini, kata tim peneliti, bisa dilihat dari jumlah laki-laki yang berada di sekitarnya.

Menurut tim peneliti, perempuan yang rajin olah raga, 73 persen lebih mungkin tidur dengan setidaknya 10 laki-laki berbeda dibanding mereka yang tidak berolah raga.

Perempuan peminum dan perokok juga dua kali lebih mungkin untuk memiliki 10 lebih kekasih. Hal itu karena kecenderungan mereka yang berani mengambil risiko.

Olahraga lompat tali. (Shutterstock)
Olahraga lompat tali. (Shutterstock)

Di sisi lain, peneliti menemukan data bahwa laki-laki berpenghasilan di atas rata-rata cenderung mempunyai pasangan lebih dari satu. Pun dengan perempuan biseksual dan laki-laki homoseksual yang dipercaya memiliki pasangan lebih banyak dari pada rata-rata orang.

Data ini didapat setelah peneliti dari Universitas Anglia Ruskin mempelajari data relationship pada sekitar 7 ribu pasangan berusia di atas 50an tahun.

Ilustrasi merokok. (Unsplash/Ander Burdain)
Ilustrasi merokok. (Unsplash/Ander Burdain)

Tujuan penelitian ini adalah mengeksplorasi faktor-faktor yang terkait dengan jumlah pasangan seksual seumur hidup yang mereka miliki.

Peneliti berharap temuan ini bisa membantu dokter mengidentifikasi individu yang berisiko paling tinggi terhadap IMS dan komplikasi kesehatan terkait kehidupan mereka. (Suara.com/Risna Halidi)

Terkait

Terkini