Sabtu, 04 April 2020

Jarang Terjadi, Perusahaan China Beri Cuti Kencan pada Karyawan Perempuan

Memang angka pernikahan di China selalu menurun tiap tahunnya.

Rima Sekarani Imamun Nissa | Yasinta Rahmawati
cloud_download Baca offline
Ilustrasi pasangan. (Pexels/Rawpixel)
Ilustrasi pasangan. (Pexels/Rawpixel)

Dewiku.com - Sangat jarang sebuah perusahaan memberi cuti tambahan pada karyawannya. Namun dua perusahaan di provinsi Zheijiang, China, malah menawarkan ''cuti kencan'' untuk karyawan perempuan di atas usia 30 tahun yang masih lajang.

Dilansir dari South China Morning Post, dalam sebuah pengumuman yang dibuat pada hari Senin (21/1/2019) awal pekan ini, Hangzhou Songcheng Performance dan Manajemen Pariwisata Hangzhou Songcheng memberikan ''cuti kencan'' tambahan selama tujuh hari istirahat tradisional.

Cuti tersebut diberikan pada karyawan perempuan yang berusia lebih dari 30 tahun dan belum menikah maupun belum memiliki pasangan.

Cuti kencan ini diharapkan dapat memberi karyawan perempuan kesempatan lebih banyak untuk berinteraksi dengan lawan jenis. Keputusan perusahaan ini pun diterima dengan hangat oleh mereka.

Pasangan kekasih. (Unsplash/Pablo Heimplatz)
Pasangan kekasih. (Unsplash/Pablo Heimplatz)

''Karyawan wanita kebanyakan bekerja di departemen fungsional internal dan beberapa di antaranya adalah penampil pertunjukan… beberapa staf wanita memiliki lebih sedikit kontak dengan dunia luar,'' ujar Huang Lei, manajer sumber daya manusia di Hangzhou Songcheng Performance.

Keputusan tersebut mengikuti jejak sekolah menengah Hangzhou yang mulai menawarkan dua setengah hari cuti cinta kepada para guru lajang tiap bulannya.

Di China, wanita lajang di atas usia 30, yang biasa disebut sebagai ''wanita sisa'' punya stigma buruk. Sebab, kepercayaan konservatif menganggap wanita yang belum menikah melewati usia dua puluhan kurang disukai pria.

Itu adalah pola pikir tradisional yang banyak dikritik karena perempuan cenderung mengembangkan karier profesional mereka sendiri.

Kementerian Urusan Sipil China juga mendokumentasikan lebih dari 200 juta orang dewasa lajang pada tahun 2015, dan tingkat pernikahan telah menurun setiap tahun sejak 2013.

Terkait

Terkini