Senin, 28 September 2020

Dampak Kurang Tidur, Energi Negatif Mudah Mendekat pada Keesokan Harinya

Kurang tidur bisa berdampak pada kesehatan mental.

Rima Sekarani Imamun Nissa
cloud_download Baca offline
Ilustrasi tidur. (Pexels/Kha Ruxury)
Ilustrasi tidur. (Pexels/Kha Ruxury)

Dewiku.com - National Sleep Foundation di Amerika Serikat merekomendasikan remaja mesti tidur selama 8-9 jam semalam, sedangkan orang dewasa di bawah 65 tahun tidur 7-9 jam. Meski begitu, nyatanya banyak orang mengalami masalah kurang tidur.

Terkait hal tersebut, sekelompok psikolog asal Norwegia menyelidiki efek kurang tidur dalam keadaan yang lebih alami.

Mereka menemukan, kurang tidur membikin peserta penelitian merasa lebih buruk pada keesokan harinya. Namun, ini bukan dalam konteks perasaan sedih atau depresi.

Hanya saja menurut mereka, orang yang kurang tidur mengalami lebih sedikit emosi positif.

"Mereka tak merasakan kegembiraan, antusiasme, perhatian, dan kepuasan," ujar Ingvild Saksvik-Lehouillier, pemimpin penelitian yang merupakan profesor psikologi di Universitas Sains dan Teknologi Norwegia.

Ilustrasi kelelahan bekerja. (Unsplash/Hutomo Abrianto)
Ilustrasi kelelahan bekerja. (Unsplash/Hutomo Abrianto)

Para psikolog mengatakan, temuan mereka menunjukkan bahwa begadang saat besoknya harus bekerja atau sekolah bisa mengganggu kemampuan dalam mengelola stres dan peristiwa negatif.

"Kami sudah tahu bahwa emosi positif yang sangat sedikit berdampak besar pada kesehatan mental. Kami juga tahu bahwa kurang tidur termasuk ke dalam gejala dari hampir semua diagnosis kesehatan mental," kata dia, dilansir Medical News Today.

Orang yang kurang tidur juga diketahui berperilaku lebih impulsif dan cenderung lebih sering membuat kesalahan pada sebuah tes standar yang disebut Conners 'Continuous Performance Test-3.

Ini adalah tes yang melibatkan penekanan bilah spasi pada keyboard setiap kali ada huruf, selain 'X', muncul pada layar secara acak.

Kurang Tidur, gangguan tidur, imsonia. (Shutterstock)
Ilustrasi kurang tidur (Shutterstock)

Para psikolog menulis bahwa temuan mereka mungkin adalah cerminan yang lebih akurat dari efek kurang tidur pada kehidupan sehari-hari daripada yang diberikan oleh eksperimen berbasis laboratorium.

Di laboratorium, para peneliti biasanya membatasi waktu tidur partisipan cuma 4 atau 5 jam semalam.

"Temuan ini menyoroti bahwa kurang tidur selama 1 hingga 2 jam selama beberapa malam dikaitkan dengan konsekuensi negatif," tulis peneliti.

"Juga, temuan ini menunjukkan kurang tidur mungkin punya implikasi penting terhadap fungsi sehari-hari dan kualitas hidup, seperti interaksi sosial, efisiensi kerja, dan keselamatan lalu lintas, terutama di pagi hari," tandas mereka.

Namun, penulis mencatat bahwa salah satu kelemahan dari penelitian mereka adalah partisipan yang terdiri dari 79% perempuan. Hal itu bisa menyebabkan bias gender pada hasilnya. (*Rosiana Chozanah)

Terkait

Terkini