Selasa, 27 Oktober 2020

Anaknya Dianggap Terlalu Berisik saat WFH, Ibu Ini Curhat Mendadak Dipecat

Dia dipecat karena dinilai tak becus membuat anaknya tetap tenang ketika kerja di rumah.

Rima Sekarani Imamun Nissa
cloud_download Baca offline
Ilustrasi perempuan sedih karena jadi korban selingkuh. (Unsplash/Riccardo Mion)
Ilustrasi perempuan sedih karena jadi korban selingkuh. (Unsplash/Riccardo Mion)

Dewiku.com - Banyak masalah ekstra yang mau tak mau harus dihadapi ketika work from home (WFH) atau kerja dari rumah, terlebih bagi para ibu yang sudah memiliki anak. Mirisnya, seorang ibu bernama Dris Wallace justru dipecat begitu saja karena anak-anak dianggap terlalu berisik saat WFH.

Melansir Daily Star, Dris adalah seorang blogger dan account executive yang mulai bekerja dari rumah pada pertengahan Maret lalu karena pandemi Covid-19. Dia membantu bosnya mengurus klien mereka sambil menjaga anak perempuannya yang berusia empat tahun, Dani, dan juga Dylan, sang putra yang baru berusia setahun.

Perempuan asal California, AS, ini bertugas menerima sejumlah panggilan bisnis pada siang hari. Dia bekerja tanpa lelah demi memenuhi tenggat waktu tapi bosnya justru mempermasalahkan anak-anak Dris yang berisik selama si bos menelepon.

Dris telah berusaha mencari solusi. Dia juga merasa pekerjaannya masih bisa ditangani dengan baik karena tidak ada klien yang komplain. Namun, dirinya kaget ketika mengetahui dia akhirnya dipecat.

Ibu dua anak dipecat karena bos tak suka anak-anaknya berisik saat WFH. (Instagram/@moderncalimom)
Ibu dua anak dipecat karena bos tak suka anak-anaknya berisik saat WFH. (Instagram/@moderncalimom)

Dris membagikan ceritanya melakui unggahan Instagram. Dia menyertakan foto bersama kedua anaknya. Si sulung tampak membawa papan bertuliskan, "Ibuku dipecat karena bosnya tak senang mendengar suaraku di belakang."

Lewat akun @moderncalimom, dia mengungkapkan, "28 hari lalu saya merasa cukup mendapatkan diskriminasi bahwa bos saya memberi tahu saya bahwa dia tak baik-baik saja dengan mendengarkan anak-anak saya di belakang ketika telepon."

Sang bos meminta Dris mencari cara biar anak-anaknya bisa lebih tenang selama dirinya WFH. Dia pun mencoba berkonsultasi dengan bagian HRD dan menceritakan apa yang terjadi selama tiga bulan terakhir. Namun, tidak disangka tujuh hari setelah itu, dia justru dipecat.

Dris jelas kecewa. Ketika mulai menerapkan WFH, perusahaannya berjanji bakal memahami kondisi karyawan dan mereka bisa bekerja sesuai jadwal orang. Namun, kenyataaannya sangat bertolak belakang.

Ilustrasi bekerja/karier/kerja/karyawan. (Pexels/Energepic)
Ilustrasi bekerja. (Pexels/Energepic)

"Saya merasa hancur. Saya sudah menyerahkan waktu berjam-jam, menangis, berkeringat, menunda memberi anak saya camilan ketika dia menginginkannya karena bos saya membutuhkan saya untuk melakukan sesuatu dengan segera. Dan apa yang saya dapatkan sebagai balasannya? DIPECAT," ungkap dia.

Dris sekarang berusaha memperjuangkan haknya dan para ibu yang bernasib sama dengannya di masa sulit ini. Dia berharap tak ada lagi ibu bekerja yang mengalami diskriminasi seperti dirinya.

"Saya akan berjuang untuk setiap ibu yang melalui ini. Ini tak baik!" katanya.

Terkait

Terkini