Senin, 06 Juli 2020

Mengenal Sosok Jackie Ying, Mualaf yang Ciptakan Rapid Test Covid-19

Jackie Ying merupakan salah satu ilmuwan perempuan yang berkontribusi melawan pandemi corona.

Rima Sekarani Imamun Nissa | Amertiya Saraswati
cloud_download Baca offline
Ilustrasi perempuan muslim. [Shutterstock]
Ilustrasi perempuan muslim. [Shutterstock]

Dewiku.com - Sosok ilmuwan perempuan Jackie Ying sempat ramai dibicarakan banyak orang. Ilmuwan muslim asal Singapura ini sukses membikin alat rapid test Covid-19 bersama timnya.

Alat rapid test ini diklaim mampu mendiagnosa apakah seseorang positif mengidap Covid-19 dalam waktu lima menit saja. Jika disetujui, alat ini bakal menjadi yang tercepat di dunia dalam hal deteksi Covid-19.

Jackie Ying sendiri merupakan seorang ilmuwan nanoteknologi yang kini berdomisili di Singapura. Meski lahir di Taiwan pada tahun 1966, Jackie Ying dan keluarganya lantas pindah ke Singapura.

Tak cuma dikenal cerdas, Jackie Ying rupanya juga merupakan seorang mualaf. Hal ini didasari oleh rasa cintanya pada sains.

"Jika kau benar-benar mempelajari sains, maka kau mesti percaya pada Sang Pencipta," ungkap dia seperti dikutip dari laman About Islam.

Jackie Ying (facebook.com/NanoBio Lab)
Jackie Ying (facebook.com/NanoBio Lab)

Kisah perjalanan mualaf Jackie Ying bermula sejak dirinya mulai mengenyam pendidikan di Singapura. Dibesarkan di lingkungan yang mengenal keberagaman, Jackie Ying sadar bahwa ada banyak cara untuk mempercayai Tuhan.

Sejak saat itulah, Jackie Ying mulai penasaran dengan agama-agama yang ada.

"Aku selalu ingin tahu tujuan dan arti dari hidup. Dan dalam agama, kita menemukan banyak jawaban untuk pertanyaan ini," kata dia.

Selama masa sekolah menengah, Jackie Ying pun mulai belajar tentang agama. Salah satunya adalah Islam.

Saat umur 30an tahun, Jackie Ying pun mantap menjadi mualaf karena menurutnya Islam memiliki koneksi dengan sains.

Islam, dalam pendapat Jackie Ying, mengajarkan manusia untuk mencari pengetahuan. Dan pengetahuan merupakan sesuatu yang berguna dalam masyarakat.

Jackie Ying (facebook.com/hidayahcentrefoundation)
Jackie Ying (facebook.com/hidayahcentrefoundation)

"Pengetahuan sains menunjuk lagi dan lagi ke arah keberadaan Tuhan. Jadi, menurutku sains dan agama tidak bermasalah dengan satu sama lain," imbuh Jackie Ying.

Alasan lainnya, Jackie Ying menyebutkan kalau Islam adalah agama yang sederhana dan mudah diterima. Inilah yang membuat dirinya mantap memeluk Islam.

"Saat aku pertama membuka Quran, sangat jelas bahwa ini adalah buku yang sangat, sangat spesial dan luar biasa."

Perjalanan Jackie Ying tidak berhenti sampai di sana. Setelah melakukan umrah, Jackie Ying pun memutuskan berhijab.

Selain itu, Jackie Ying juga kerap memberikan dakwah di Singapura terlepas dari kesibukannya sebagai ilmuwan.

Jackie Ying sendiri diketahui telah menerima lusinan penghargaan seputar nanoteknologi. Tidak hanya itu, dirinya juga masuk daftar nominasi 500 Muslim Paling Berpengaruh di Dunia.

Terkait

Terkini