Sabtu, 26 September 2020

Peneliti Wanita Dipecat dari Kantor karena Sebarkan Pesan Rasis

Pesannya penuh dengan kata-kata rasis.

Rauhanda Riyantama | Rima Suliastini
cloud_download Baca offline
Ilustrasi wanita dipecat. (Pexels)
Ilustrasi wanita dipecat. (Pexels)

Dewiku.com - Seorang peneliti wanita bernama Kathryn Ralph dipecat karena megirim pesan rasis melalui media sosial. Peneliti denga gelar Ph.D ini kini terpaksa kehilangan pekerjaannya.

Melansir Next Shark, Kathryn sudah meresahkan banyak orang karena pesannya tersebar secara online.

Ia berkata jika orang-orang Asia adalah sumber dari banyak bencana di muka bumi ini, termasuk menyebarnya virus corona yangmenjadi pandemi. Ia juga mengusir mereka dari Amerika.

"Berhenti makan kelelawar (dan kucing dan hewan yang sakit menular). Hentikan perburuan badak untuk obat omong kosong. Dan menghentikan barang-barang palsu. Ini adalah virus Cina. Anda patut disalahkan 100%," tulis Kathryn Ralph.

Salah satu warganet, Sherrie Shaw bereaksi atas pesan ini. Ia turut meradang karena menantunya adalah orang Asia. Melalui Facebook, ia menumpahkan isi hatinya.

Ilustrasi Wanita Fobia (Pixabay/xusenru)
Ilustrasi Wanita. (Pixabay/xusenru)

"Dia mengirim teks dan pesan ke siswa Asia. Menantu saya adalah orang Tionghoa. Posting ini sangat rasis dan mengancam. Dia lulus dari Universitas Notre Dame dan dia bekerja untuk Organisasi konservatif, Akademi Heterodox," tulis Sherrie Shaw.

"Dia perlu dimintai pertanggungjawaban karena mengancam mahasiswa yang tidak punya tempat untuk pergi," tulisnya.

Warganet yang tak setuju dengan aksi Kathryn akhirnya menghubungi pihak Heterodox Academy, tempat peneliti senior ini bekerja. Belakangan diketahui jika Kathryn dipecat dari posisinya sebagai peneliti senior.

Peneliti Wanita Dipecat dari Kantor karena Sebarkan Pesan Rasis - 2
Ilustrasi kehilangan pekerjaan. (Shutterstock)

"Seorang karyawan HxA telah membuat pernyataan di media sosial yang menyatakan penghinaan terhadap orang-orang dan budaya China, terutama mengenai pandemi virus corona saat ini," jelas pihak Heterodox Academy.

"Pernyataan itu juga melanggar standar perilaku kita. Hubungan kerja kami dengan individu yang terlibat telah diputus," lanjutnya.

Terkait

Terkini