Selasa, 28 Januari 2020

Fakta Menarik Angkie Yudistia, Tuna Rungu Staf Khusus Jokowi

Angkie Yudistia merupakan sosok inspiratif pejuang kaum disabilitas.

Rima Sekarani Imamun Nissa
cloud_download Baca offline
Presiden Jokowi mengumumkan tujuh staf khusus baru di Istana Merdeka, Jakarta. (Suara.com/Ummi Saleh)
Presiden Jokowi mengumumkan tujuh staf khusus baru di Istana Merdeka, Jakarta. (Suara.com/Ummi Saleh)

Dewiku.com - Presiden Joko Widodo memilih seorang tuna rungu bernama Angkie Yudistia sebagai salah satu staf khusus kepresidenan.

Menurut Jokowi, Perempuan 32 tahun itu cocok menjadi staf khusus presiden karena telah terbukti sukses menjadi CEO Thisable Enterprise.

"Angkie adalah anak muda penyandang disabilitas yang aktif bergerak di sociopreneur melalui Disable Enterprise. Dia juga aktif sebagai anggota Asia Pacific Deaf Person, anggota Internasional Federation," ungkap Jokowi di halaman belakang Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (21/11/2019) lalu.

Jokowi rupanya juga memberikan tambahan tugas kepada Angkie Yudistia. "Saya minta Angkie menjadi jubir presiden bidang sosial. Saya tambahi tugas itu," ujarnya.

Kalau Anda penasaran dengan sosok Angkie Yudistia, simak beberapa fakta menarik berikut ini!

1. Tuna rungu sejak kecil

Sejak kecil, Angkie Yudistia telah mengalami gangguan pendengaran tuna rungu karena terserang malaria.

Tak terhitung hinaan dari teman-teman atau siapapun yang mengetahui kekurangannya itu. Perasaan minder juga sempat muncul di benaknnya. Hanya saja, dia memutuskan untuk melangkah maju.

Presiden Jokowi mengumumkan tujuh staf khusus baru di Istana Merdeka, Jakarta. (Suara.com/Ummi Saleh)
Presiden Jokowi mengumumkan tujuh staf khusus baru di Istana Merdeka, Jakarta. (Suara.com/Ummi Saleh)

2. Motivator inspiratif

Menurut Angkie, siapapun berhak punya cita-cita tinggi, termasuk penyandang disabilitas. Ia juga mengimbau sesama disabilitas untuk tidak membandingkan dirinya dengan orang lain karena pada dasarnya setiap orang diciptakan berbeda.

Hal itu pernah diungkapkan Angkie dalam acara Youth Town Hall Nasional yang dihelat Kementerian Kesehatan RI bersama Badan Kesehatan Dunia (WHO) di Balai Sarbini, Jakarta, Maret 2019 lalu.

3. Gigih menempuh pendidikan.

Soal pendidikan, Angkie Yudistia membuktikan bahwa tak ada yang tidak mungkin selama yakin dan mau berusaha. Meski tuna rungu, itu tidak menyurutkna keinginannya mengambil jurusan komunikasi saat kuliah.

"Semua possible selama kita yakin. Saya tidak bisa mendengar, tapi saya bisa lulus S1 dan S2 dengan cumlaude. Saya memang nggak bisa mendengar tapi saya bisa melihat. Saya berusaha menggunakan mata untuk mengakses informasi," ungkap dia, masih saat acara Youth Town Hall Nasional.

Perempuan belajar giat untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. (Unsplash/Eliabe Costa)
Perempuan belajar giat untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. (Unsplash/Eliabe Costa)

4. Kemampuannya sempat diragukan di dunia kerja

Memasuki dunia kerja, Angkie Yudistia bilang tak semua perusahaan mempercayai kemampuan disabilitas.

Namun, baginya itu adalah tantangan tersendiri. Dia pun melepaskan pekerjaannya dan memulai bisnis baru untuk menciptakan lapangan kerja bagi para disabilitas seperti dirinya.

"Saya sempat bekerja tapi saya merasa banyak komunitas disabilitas yang susah dapat pekerjaan. Hingga akhirnya saya merasa harus membuat perubahan," ucap dia.

5. Bangga jadi Staf Khusus Presiden Jokowi

Angkie Yudistia merupakan satu-satunya penyandang disabilitas yang jadi staf khusus. "Turut bangga saya berdiri di sini mewakili Disable Enterprise yang saya bangun 8 tahun. Sudah waktunya disabilitas bukan kelompok minoritas," tutur dia.

"Mudah-mudahan saya bisa bekerja lebih baik, ya, Pak. Dibantu teman-teman yang hebat di sini, wartawan, dan masyarakat, menjadikan Indonesia lebih ramah disabilitas," tambah dia.

Terkait

Terkini