Selasa, 29 September 2020

Mengenal Sisi Menarik Profesi Kurator Seni dari Alia Swastika

Alia Swastika menjadi salah satu kurator di perhelatan Biennale Jogja 2019.

Yasinta Rahmawati
cloud_download Baca offline
Alia Swastika, Direktur Eksekutif Yayasan Biennale Yogyakarta. (Dewiku.com/Yasinta Rahmawati)
Alia Swastika, Direktur Eksekutif Yayasan Biennale Yogyakarta. (Dewiku.com/Yasinta Rahmawati)

Dewiku.com - Pameran seni kerap kali menampilkan hal menarik dari segi visual maupun tema. Namun di balik deretan karya seniman yang tersaji, ada proses panjang hingga dapat diapresiasi di ruang publik dan itu melibatkan peran seorang kurator seni.

Bagi Alia Swastika yang menjadi kurator seni, profesi tersebut memiliki tugas untuk menjadi jembatan antara proses produksi karya seni dengan apresiasi seni.

Wanita asal Yogyakarta ini dari dulu memang menyukai dunia seni rupa, khususnya seni kontemporer. Dari yang awalnya menjadi penikmat, ia kemudian melihat sisi menarik dari menjadi kurator seni.

Dengan menjadi kurator seni, ia bisa bertemu banyak seniman dan memasuki gagasan mereka yang tidak banyak orang tahu.

"Orang tahunya dateng, nonton pameran, karyanya udah jadi. Sementara kalo kurator kita memulai dari baru sketsa, karyanya belum jadi apa-apa sama seniman mengalami proses itu. Itu yang menurut saya menarik," ujarnya saat ditemui Dewiku.com di Taman Budaya Yogyakarta, Kamis (24/10/2019) pekan kemarin.

Alia Swastika, Direktur Eksekutif Yayasan Biennale Yogyakarta. (Dewiku.com/Yasinta Rahmawati)
Alia Swastika, Direktur Eksekutif Yayasan Biennale Yogyakarta. (Dewiku.com/Yasinta Rahmawati)

Selain melihat seniman berproses, wanita berusia 39 tahun ini juga memperlihatkan sisi menarik lain di mana kurator seni juga harus mengenalkan karya-karya itu kepada publik.

"Menerangkan kepada publik sebenarnya karya ini maknanya apa, bagaimana memahami karya," tambahnya.

Wanita yang lahir pada 17 Agustus 1980 ini kemudian mengaku bahwa dia sebenarnya mengawali karier menjadi kurator seni dari ketidaksengajaan.

Alia bahkan tidak memiliki latar belakang pendidikan seni rupa sama sekali. Sebab, ia merupakan alumni Universitas Gajah Mada (UGM) jurusan Ilmu Komunikasi.

Instalasi Seni Biennale Jogja 2019, Taman Budaya Yogyakarta (Suara.com/Amertiya)
Instalasi Seni Biennale Jogja 2019, Taman Budaya Yogyakarta (Suara.com/Amertiya)

Namun bermodal kecintaan akan seni rupa dan senang mengunjungi pameran, ia tertarik untuk menindaklanjuti passion. Alia lalu mengawali karier menjadi penulis dan editor untuk sebuah majalah seni pada 2001.

"Dulu belum ada sekolah kuratorial atau manajemen seni, jadi kita masuk ke dunia seni lebih karena kecintaan. Saya senang nonton pameran waktu itu, kerja bertemu dengan seniman-seniman terus memutuskan, 'Oke aku ingin kerja di dunia seni'," terang Alia.

Dari sana, seni pun menjadi bagian dari hidupnya dan terus akan seperti itu. Sekarang Alia Swastika menikmati kesehariannya menjadi kurator seni. Ia kini juga menjabat sebagai Direktur Eksekutif Yayasan Biennale Yogyakarta.

Terkait

Terkini