Sabtu, 21 September 2019

Takut Kena Serangan Jantung, Wanita Ini Ternyata Alami Sindrom Patah Hati

Sindrom patah hati bukan sekedar mitos.

Rima Sekarani Imamun Nissa
Ilustrasi wanita sedang sedih. (Unsplash/Kevin Laminto)
Ilustrasi wanita sedang sedih. (Unsplash/Kevin Laminto)

Dewiku.com - Pernah dengar tentang sindrom patah hati? Para peneliti telah mengonfirmasi dalam beberapa tahun terakhir bahwa stres ekstrem dapat benar-benar menghancurkan hati seseorang.

Tidak hanya karena kehilangan pasangan, tetapi juga kehilangan pekerjaan, mengalami masalah kesehatan tertentu atau pemicu stres lainnya bisa dikaitkan dengan kondisi patah hati ini.

Sindrom yang secara medis dikenal sebagai kardiomiopati takotsubo ini menyebabkan melemahnya ventrikel kiri, ruang pemompa utama jantung. Sindrom ini umumnya terjadi akibat stres emosinal atau fisik yang parah.

Itulah yang terjadi pada Joanie Simpson. Wanita berusia 63 tahun ini mengalami sindrom patah hati sekitar dua tahun lalu setelah kematian anjing tercintanya.

Kematian anjing kesayangannya hanyalah salah satu dari banyak masalah yang ia miliki saat itu. Suaminya hampir pensiun, penjualan beberapa propertinya tidak berjalan mulus, hingga putranya sedang sakit punggung yang semakin memburuk.

Beberapa hari setelah anjingnya meninggal, Simpson terbangun dengan rasa sakit di dada dan bahu. Khawatir dengan gejala serangan jantung, akhirnya ia memeriksakan dirinya ke ahli jantung, Abhijeet Dhoble, MD, di Memorial Hermann Heart & Vascular Institute Houston.

Ilustrasi punya penyakit jantung. (Unsplash/Giulia Bertelli)
Ilustrasi punya penyakit jantung. (Unsplash/Giulia Bertelli)

Setelah melakukan beberapa tes, ia malah menemukan penyebab berbeda dari rasa sakitnya: patah hati.

Lebih dari 6.200 kasus sindrom patah hati dilaporkan pada 2012 di Amerika Serikat, naik dari sekitar 300 kasus pada 2006, kata Dhoble. Sebagian besar pasien adalah wanita.

Menurutnya, peningkatkan penyakit ini kemungkinan karena banyaknya orang yang sadar akan masalah-masalah yang sedang dihadapinya.

Melansir WebMD, nyeri hebat dapat memicu sindrom ini. Begitu juga serangan asma, pertengkaran sengit, pesta kejutan, atau bahkan berbicara di depan umum.

Kondisi jantung orang yang alami patah hati (YouTube/ABC15 Arizona)
Kondisi jantung orang yang alami patah hati (YouTube/ABC15 Arizona)

Gejala yang menyerupai serangan jantung, paling sering adalah nyeri dada dan sesak napas. Mual, muntah, dan jantung berdebar juga bisa terjadi. Meski begitu, hanya pengujian yang dapat menunjukkan diagnosis, kata Dhoble.

Untungnya, 95% pasien sindrom patah hati pulih dalam waktu 1-2 bulan. "Biasanya prognosisnya cukup baik," kata Decker, seorang asisten profesor kedokteran di Michigan State University.

Pasien biasanya mendapatkan obat yang sama untuk mengobati gagal jantung kongestif. Fungsinya adalah mendukung dan memperkuat jantung. (Suara.com/Rosiana Chozanah)

Terkait

Terkini