Sabtu, 21 September 2019

Kesehatan Mental Bisa Terancam, Ini Bahayanya Jadi Tempat Curhat

Ada yang langganan jadi tempat curhat banyak orang?

Rima Sekarani Imamun Nissa
Ilustrasi curhat. (Unsplash/Trung Thanh)
Ilustrasi curhat. (Unsplash/Trung Thanh)

Dewiku.com - Siapa yang kerap menjadi tempat curhat teman, entah itu masalah berat atau sekadar mengeluarkan perasaan yang mengganjal di hati? Bantuanmu untuk mereka memang bermanfaat, setidaknya karena kamu sudah ajdi pendengar yang baik. Namun, rupanya keseringan jadi tempat curhat bsa berdampak buruk bagi kesehatanmu. 

Sebagian besar orang senang mencurahkan isi hati dan kegalauannya pada orang terdekat agar lebih tenang. Hanya saja, nyatanya tidak semua orang memiliki kondisi psikologis cukup baik untuk mendengarkan curhatan.

Dr. Dedy Susanto, doktor psikologi, melalui instagram pribadinya memperingatkan semua orang yang sering menjadi tempat curhat. Dia menyarankan untuk lebih mengurangi kebiasaan tersebut dan menyadari kondisi diri sendiri.

''Buat kamu yang sering terima curhat. Hati-hati ya, niat kamu baik namun ada transfer of energy. Mereka lega namun tanpa sadar kamu menampung semuanya,'' tulis Dr Dedy Susanto, belum lama ini.

Ia pun menyebutkan sinyal-sinyal seseorang harus mulai menghentikan kebiasaan buruk mendengarkan curhatan orang lain. Ada beberapa gejala-gejala tertentu yang perlu diperhatikan, seperti migrain, susah tidur, hingga sensitif berlebihan.

Kebiasaan menjadi tempat curhat bisa memberikan dampak buruk pada pikiran dan kesehatan (Instagram/@dedysusantopj)
Kebiasaan menjadi tempat curhat bisa memberikan dampak buruk pada kesehatan. (Instagram/@dedysusantopj)

''Cek indikatornya, bila tidur tidak nyenyak, migrain, maag, sensitif dan kepala atau dada terasa penuh. Jangan lanjutkan jadi penerima curhat. Karena, tidak semua orang ditakdirkan untuk ini. Jangan memaksakan diri nanti rembetannya ke keluargamu, bakal sensi nggak jelas ke keluargamu.''

Dr. Dedy Susanto juga menyarankan untuk seseorang mengajak temannya yang sering menjadi teman curhat berjalan-jalan agar lebih rileks.

Melansir dari inc.com, Trevor Blake juga pernah menyatakan bahwa terlalu sering mendengar keluhan seseorang bisa memberikan pengaruh buruk pada otak.

Ungkapan duka cinta untuk sahabat. (Unsplash/Ben White)
Ungkapan duka cinta untuk sahabat. (Unsplash/Ben White)

Otak bekerja sama kerasnya dengan otot dan lebih dari yang kita ketahui selama ini. Jika membiarkan pikiran terus mendengarkan keluhan orang lain, terlebih keluhan negatif, kondisi tersebut justru membuat diri kita cenderung berperilaku seperti itu juga.

Pada kondisi yang lebih buruk lagi, terlalu sering mendengarkan curhatan negatif juga membuat kita menjadi bodoh. Kok, bisa?

Penelitian menunjukkan bahwa mendengarkan curhatan dan keluhan selama 30 menit atau lebih bisa berefek mengupas neuron di hippocampus otak. Padahal itulah bagian otak yang paling diperlukan untuk memecahkan masalah. (Himedik.com/Shevinna Putti Anggraeni)

Terkait

Terkini