Selasa, 24 November 2020

Guyonan Seksis, Tuduhan Baperan, dan Susahnya Korban Bersikap Asertif

Katanya, jika guyonan seksis membuatmu marah, selera humormu bisa jadi terlalu rendah.

Rima Sekarani Imamun Nissa
cloud_download Baca offline
Ilustrasi asertif terhadap guyonan seksis. (DewiKu.com/Ema Rohimah)
Ilustrasi asertif terhadap guyonan seksis. (DewiKu.com/Ema Rohimah)

Dewiku.com - Bercanda memang menyenangkan. Tertawa juga menjadi salah satu cara terbaik mengatasi stres. Sayangnya, jika yang kita terbiasa tertawa karena guyonan seksis, sadarkan itu termasuk bentuk pelecehan secara verbal?

Mari kita memulainya dengan sebuah percakapan ringan yang (harapannya) cuma fiktif ini. Jumat pagi, seorang pekerja perempuan baru saja sampai di lobi kantor saat dua rekan pria menyapanya. Penampilan si perempuan sebenarnya biasa saja, sopan selayaknya untuk pergi bekerja. Namun, dua rekannya itu langsung salah fokus dengan rambut si perempuan yang masih setengah basah.

''Abis keramas, nih? Semalem main apa, nih?'' tanya pria A.

''Abis digarap berapa kali sama suami? Capek banget pasti,'' timpal pria B yang kemudian tertawa bersama pria A.

Reaksi si perempuan? Dia merasa tidak nyaman dan tersinggung. Baginya, walaupun tujuannya hanya basa-basi, pertanyaan ambigu semacam itu benar-benar tidak perlu.

''Harus banget bahas kayak begitu sepagi ini?'' balas si perempuan, lalu segera meninggalkan dua rekannya itu.

''Bercanda kali! Gitu aja marah!''

Seandainya Anda adalah si perempuan, apakah Anda bisa menerimanya sebagai bercanda saja?

Ilustrasi asertif terhadap guyonan seksis. (DewiKu.com/Ema Rohimah)
Ilustrasi asertif terhadap guyonan seksis. (DewiKu.com/Ema Rohimah)

Sulitnya memaklumi cara berpikir seksis

Banyak orang tidak menyadari betapa banyaknya ucapan dan candaan sehari-hari yang masuk dalam kategori pelecehan verbal. Kita menganggapnya biasa, padahal itu muncul dari pikiran dan perilaku seksis.

Bisa jadi karena bentuk pelecehan verbal memang sangat banyak sehingga bikin malas mengingatnya, semacam karena jadi tidak merasa tidak bebas bertindak. Kenyataannya, ini memang mencakup mengomentari kondisi fisik, bersiul dengan tujuan menggoda, cat calling, merendahkan orang lain dengan membawa gendernya, hingga guyonan seksis.

Guyonan yang paling populer belakangan ini mungkin soal perangai golongan 'emak-emak'. Seseorang bisa dengan entengnya berkata, ''Kamu ini kayak emak-emak, sign kiri beloknya ke kanan.''

Lucu, sih. Jarang yang menyadari jika itu maksudnya adalah mengatai seseorang sangat plin-plan, tidak bisa fokus, tidak konsisten, sebagaimana stigma yang selama ini dilekatkan kepada perempuan.

''Tidak semua orang menyadari bahwa guyonan yang dilontarkan berpotensi seksis,'' kata Defirentia One, Program Development Officer dan Staf Peneliti Pusat Pengembangan Sumberdaya untuk Penghapusan Kekerasan Terhadap Perempuan Rifka Annisa kepada DewiKu.com, Minggu (28/4/2019) kemarin.

Kata One, dalam lingkungan masyarakat yang patriarkis, budaya seksis secara tidak sadar memicu orang untuk bertindak diskriminatif, bahkan melakukan kekerasan terhadap jenis kelamin tertentu yang dianggap lebih lemah. Umumnya, perempuan sangat rentan menjadi korban.

''Ketika budaya patriarki masih kuat, guyonan seksis akan dianggap hal biasa. Pelecehan dan kekerasan cenderung diwajarkan, dimaklumi, tidak dianggap penting, bahkan diabaikan,'' ujar One.

One mengatakan, cara berpikir seksis itu berbahaya. Jadi misalnya saat ada perempuan mengalami pelecehan, respon pelaku atau orang di sekitarnya malah menganggap itu hal biasa. Si perempuan malah lebih mungkin disalahkan atas dasar perilaku atau cara berpakaian, termasuk menganggap korban bertindak berlebihan karena melaporkan pelecehan yang dialami.

Dalam hal ini, millenials punya bahasa sederhana tapi sayangnya sudah terlalu sering menyesatkan: baperan. Korban dianggap terlalu emosional dan tidak asik untuk diajak bercanda karena terlalu mudah terbawa perasaan.

Saat korban merasa terancam dan mencoba asertif memprotes tindakan si pelaku, dia cuma bakal 'ditenangkan' dengan mengatakan bahwa itu bukan pelecehan, melainkan hanya bercanda dan kesalahpahaman belaka.

''Apapun kalau sampai menyakiti orang lain dan membuat orang tersebut tidak bisa melangsungkan hidup secara nornal karena tekanan psikis, fisik, atau sosial, dan lainnya, itu sudah masuk ranah kekerasan,'' tegas One.

Ilustrasi wanita sedang sedih. (Unsplash/Motoki Tonn)
Ilustrasi wanita sedang sedih. (Unsplash/Motoki Tonn)

Belajar asertif terhadap guyonan seksis

Menghadapi orang yang melontarkan guyonan seksis, bisa lewat konfrontrasi langsung dengan menyampaikan protes kepada pelaku. Katakan bahwa ucapan si pelaku tidak pantas, mengganggu, menyakiti, dan merendahkan diri kita. Jika perlu, bilang pada pelaku untuk meminta maaf.

Meski begitu, One pun memahami itu bukan hal mudah. Sering kali ada relasi kuasa yang menjadi penghalang.

''Mungkin kita bisa lebih asertif dan berani bertindak jika yang dihadapi adalah sebaya atau orang yang selasi kuasanya tidak timpang. Namun jika itu atasan, orangtua, atau senior, mungkin kita akan berpikir dua kali saat ingin bertindak,'' tutur One.

Walau demikian, kita juga bisa melatih diri sendiri untuk tetap asertif dan tidak memberikan toleransi terhadap segala bentuk pelecehan, termasuk guyonan seksis. Cobalah untuk mengungkapkan keberatan dan ketidaknyamanan yang dirasakan dengan tetap peka terhadap situasi.

Nah, masih ingat dengan si perempuan yang jadi obyek guyonan seksi karena rambutnya masih setengah basah? Ada beberapa kalimat yang menurut One sah-sah saja untuk dikatakan kepada para pelaku. Salah satunya dengan bertanya, ''Bisa dijelaskan apa maksudnya mengatakan hal norak seperti itu?''

Saling menghargai dan berempati

Apakah hanya perempuan yang menjadi obyek guyonan seksis dan pelecehan? Tentu saja tidak. Lelaki juga bisa. Semakin timpang relasi kuasanya, baik itu secara gender, usia, jabatan, status sosial, maupun ekonomi dan lainnya, hampir dipastikan pihak yang lebih rendah posisinya akan menjadi objek paling rentan.

One memaparkan, dalam budaya patriarki, laki-laki seolah ditempatkan dalam struktur hierarkis dengan kriteria tertentu, seperti 'sangat laki-laki' dan 'kurang laki-laki'. Jika ada laki-laki yang tidak mampu mencapai kriteria ideal yang dikonstruksikan, dia pun rentan menjadi objek guyonan seksis, pelecehan, bahkan kekerasan.

Bagaimanapun, kuncinya adalah saling menghargai, berempati, dan tidak merendahkan orang lain. ''Karena kita tidak ingin kejadian yang buruk tersebut menimpa diri kita, ya jangan melakukan itu pada orang lain. Setiap orang berhak hidup nyaman, tanpa gangguan, dan kekerasan,'' kata One kemudian.

Saat korban berusaha bersikap asertif, jangan sekali-kali disepelekan. Dampak guyonan seksis sangat mungkin tidak sesederhana yang kita pikirkan. Saat korban melapor, berarti dia membutuhkan perlindungan dan dukungan. Bahkan, mungkin saja ada bukan hanya guyonan seksis yang mengganggunya, melainkan sudah terjadi pelecehan lain.

Psikolog anak dan remaja, Erna Marina Kusuma, pernah menyampaikan saran yang terdengar klasik tapi memang paling krusial. Menyebut korban baperan benar-benar bukan pilihan.

''Yang penting itu hargai perasaannya, hargai ketakutannya, dan hentikan kata-kata yang menyalahkan korban kekerasan seksual, sekarang,'' ujarnya menegaskan, seperti dikutip dari Suara.com.

Senada dengan Erna, One juga mengungkapkan, ''Yang perlu diingat juga adalah agar korban tidak menyalahkan diri sendiri. Tidak ada tindak pelecehan maupun kekerasan apapun yang dibenarkan.''

Terkait

Terkini