Sabtu, 23 Maret 2019

Awas, Bekerja saat Weekend Berisiko Lebih Tinggi Terserang Depresi

Ada yang masih bekerja saat weekend?

Vika Widiastuti | Yasinta Rahmawati
Ilustrasi kelelahan bekerja. (Unsplash/Hutomo Abrianto)
Ilustrasi kelelahan bekerja. (Unsplash/Hutomo Abrianto)

Dewiku.com - Entah itu pekerjaan sampingan maupun full-time, banyak dari kita yang tetap bekerja saat weekend. Hati-hati, rutinitas itu bisa memberi dampak negatif.

Dilansir dari World of Buzz, menurut sebuah laporan oleh Free Malaysia Today, para pekerja keras saat weekend lebih mungkin menderita depresi.

Penelitian yang diterbitkan dalam Jurnal Epidemologi & Kesehatan Masyarakat ini dilakukan oleh University College London, Departemen Penelitian dan Kebijakan di Age UK, dan Queen Mary University of London. Melibatkan total sampel data 11.215 pria dan 12.188 wanita, mereka menemukan beberapa temuan menarik.

Stres bekerja. (Unsplash/JESHOOTS.COM)
Stres bekerja. (Unsplash/JESHOOTS.COM)

 

Menentukan standar minggu kerja sebagai 35 hingga 40 jam seminggu, mereka menghasilkan kategori berikut :

1. Kurang dari jam kerja standar: <35 jam seminggu
2. Jam kerja standar: 35-40 jam seminggu
3. Jam kerja panjang: 41-55 jam seminggu
4. Jam kerja ekstra panjang: 55+ jam seminggu

Studi ini menemukan bahwa wanita yang bekerja dengan jam kerja ekstra panjang atau pada akhir pekan terbanyak memiliki kesehatan mental terburuk dibanding wanita yang bekerja dengan jam standar.

Bagi pria, bekerja lebih banyak atau lebih sedikit saat weekend daripada weekdays tidak berpengaruh pada gejala depresi.

Namun, penting untuk dicatat bahwa bekerja di akhir pekan tetap menyumbang peningkatan risiko depresi pada keduanya. Sebab ditemukan juga bahwa pria cenderung mengalami gejala depresi dengan pekerjaan akhir pekan ketika mereka tidak menyukai kondisi kerja mereka.

Kesehatan, baik fisik dan mental adalah prioritas yang harus dijaga semua orang. Jadi, pastikan kamu mendapatkan keseimbangan kehidupan kerja yang baik ya!

Terkait

Terkini