Kamis, 26 November 2020

Kisah Wanita Inspiratif, Berjuang untuk Papua dengan Modal Kuota Internet

Lisa Duwiry benar-benar mengoptimalkan modal kuota internet.

Rima Sekarani Imamun Nissa
cloud_download Baca offline
Potret perempuan Papua. (Unsplash/Asso Myron)
Potret perempuan Papua. (Unsplash/Asso Myron)

Dewiku.com - Lisa Duwiry merupakan satu dari anak muda berdarah Papua yang beruntung. Ia lahir dan besar di Jakarta sehingga bisa dibilang membuatnya hidup serba kecukupan. Namun, dia sadar, hal itu tak bisa didapatkan oleh saudara-saudara Papuanya yang lain.

Masalah gizi buruk dan sulitnya akses pendidikan di provinsi paling timur Indonesia tersebutlah yang mendorong Lisa berjuang untuk membantu masyarakat Papua mendapatkan perubahan dalam hidupnya.

Meski tinggal di pusat ibu kota, tak menyulitkan Lisa untuk melakukan sejumlah kampanye kemanusiaan. Dia terus mengajak begitu banyak orang untuk membantu masyarakat Papua, khususnya anak-anak, mendapatkan gizi dan pendidikan yang lebih layak.

''Awalnya, saya bergabung dalam gerakan 'Buku Untuk Papua' di Twitter. Foundernya adalah Dayu Fanto, kami mengumpulkan buku-buku bekas untuk teman Dayu yang memiliki perpustakaan di Nabire,'' tutur Lisa Duwiry, dalam acara MaCe Papua yang dihelat Econusa di Jakarta beberapa waktu lalu, seperti dikutip dari Suara.com, Senin (4/3/2019).

Lisa bilang, 'Buku Untuk Papua' mulai berkembang. Tidak hanya menyumbangkan buku dengan cuma-cuma, mereka pun rutin mengadakan Kelas Cerdas. Tujuannya selain berbagi ilmu, semua orang yang bersedia datang diwajibkan membawa buku untuk didonasikan bersama 'Buku Untuk Papua'.

#UntukKorowai. (Instagram)
#UntukKorowai. (Instagram)

Setelah bergabung bersama 'Buku Untuk Papua', Lisa pun memutuskan vakum sejenak dalam kegiatan tersebut. Meski begitu, dia terus mencari hal baru yang bisa ia lakukan untuk tanah Papua. Sampai di tengah perjalanan, perempuan keturunan Jawa - Papua ini melihat informasi adanya kasus gizi buruk di Korowai, Papua.

Tepatnya itu adalah kisah mengenai Putih Atil, bocah perempuan yang menderita Noma. Penyakit akut akibat gizi kronis tersebut menyebabkan luka di mulutnya sampai pipinya bolong. Berita ini lantas mendorongnya untuk kembali bergerak, yakni berbuat sesuatu untuk Korowai.

Gerakan tagar #UntukKorowai mulai menggema.

''Berpaling sebentar yuk lihat anak-anak & mama-mama di Korowai Papua, mereka perlu bantuan kita. Kalau mau dan mampu, mari sama-sama ikut memberikan urunan tangan. Kalau bisa langsung tekan tombol dana sekarang, kita efisiensi waktu daripada ditumpuk-tumpuk. Karena mendesak, tiap hari ada saja anak yang meninggal,'' tulis Lisa saat itu di akun Twitter miliknya.

Lisa mengajak lebih banyak orang untuk menyumbangkan dana untuk dibelikan pangan guna perbaikan gizi dan vitamin, pakaian anak dan dewasa, selimut, handuk, hingga perlengkapan mandi.

Lisa Duwiry. (Dok. Pribadi)
Lisa Duwiry. (Dok. Pribadi)

''Saya awalnya niatnya cuma sekedar sharing. Me-retweet berita itu, ini lho di Korowai ada kasus gizi buruk sampai ada anak yang mengalami ini,'' ungkap dia.

Selain Lisa, standup comedian Arie Kriting, juga terpanggil dan menjadi salah satu influencer yang mendukung kampanye #UntukKorowai. Melalui caption di akun jejaring sosial instagram pribadinya, Arie juga mengajak netizen untuk turut ambil bagian dalam kampanye ini.

Cuitan Lisa pun ternyata menjadi besar dan menarik perhatian banyak orang, khususnya saat beberapa influencer seperti Arie Kriting dan penyanyi Once turut menggemakan tagar #UntukKorowai. Lisa pun bisa mengumpulkan dana Rp 130 juta.

Tak puas menolong Putih Atil bersama saudara-saudara Papuanya yang lain, masih di Korowai, kala itu Lisa yang sempat mengunjungi daerah tersebut melihat bahwa akses pendidikan adalah hal lainnya yang mesti dibereskan.

Angka buta huruf di Papua diketahui paling tinggi. Mengapa? Kata Lisa, Papua, khususnya Korowai, tidak mempunyai tenaga pengajar dan sekolah layak seperti yang sangat mudah ditemui di Pulau Jawa atau pulau lain di Indonesia.

Inilah yang kemudian membuat dia menjalankan aksi kedua #UntukKorowai yang pada akhirnya secara mandiri membiayai satu guru, yang bernama Margi untuk mau mengajar di desa Brumakot, Korowai.

''Sebagian menggunakan sisa crowdfunding dari aksi pertama untuk Putih Atil, lalu dari sana kita lakukan lagi crowdfunding, untuk membeli kebutuhan solar panel di rumah guru Margi, karena di sana tidak ada listrik sama sekali,'' tutur Lisa Duwiry.

Dari crowdfunding tersebut, #UntukKorowai akhirnya tidak hanya mengadakan kebutuhan solar panel untuk guru Margi, tetapi juga di rumah kepala desa dan penginjil di desa tersebut.

Potret anak di Papua. (Unsplash/Iris Uijttewaal)
Potret anak di Papua. (Unsplash/Iris Uijttewaal)

Progam paling baru dan sedang berjalan, Lisa kembali mendorong dukungan publik melalui tagar #UntukKorowai dan juga #KalepinKorowai yang dipicu pengalaman satu anak bernama Kalepin yang terbuang dari komunitasnya. Terinspirasi dari anak ini, Lisa membantu anak-anak dari Korowai bernasib sama untuk membangun asrama dan sekolah.

Lisa menambahkan, apa yang dia lakukan sebenarnyasangat sederhana dan bisa semua orang.

''Dengan modal kuota internet saja, kita bisa manfaatkan potensi sosial media yang tidak ada batasnya. Buat tujuan baik. Jadi bukan buat senang-senang saja.''

''Dengan menggaungkan hashtag kita sudah bisa ajak orang. Ketika orang tertarik dengan apa yang kita ajak, dari situ akan muncul aksi-aksi. Seperti gerakan untuk Korowai, saya mulai dari satu tweet saja,'' kata Lisa Duwiry.

Lisa berharap, kampanye kemanusiaan #UntukKorowai dapat terus berlanjut, bahkan juga bisa merambah daerah lain di Papua. Dengan begitu, sederet permasalahan yang ada bisa terselesaikan sehingga membuat masyarakat Papua semakin sejahtera. (Suara.com/Dinda Rachmawati)

Terkini