Rabu, 30 September 2020

Beli Baju Tak Usah Fitting, Ini Kata Desainer soal New Normal

Baju yang kita coba mungkin saja menjadi sarana penularan virus corona.

Rima Sekarani Imamun Nissa
cloud_download Baca offline
Ilustrasi hobi belanja. (Unsplash/Freestock.org)
Ilustrasi hobi belanja. (Unsplash/Freestock.org)

Dewiku.com - New normal atau tatanan hidup baru diprediksi akan mengubah banyak kebiasaan dan gaya hidup. Dunia mode pun ikut terpengaruh.

Apa yang berbeda? Menurut desainer Musa Widyatmojo, bakal terjadi perbedaan soal mencoba pakaian di kamar pas atau fitting room. Begitu juga soal pagelaran busana akan menjadi berbeda di fase normal baru ini.

"Misalnya, seperti di departement store, kita biasanya fitting (sebelum beli pakaian). Sekarang new normal-nya adalah tidak ada lagi fitting room. Customer tidak boleh mencoba baju karena bisa saja menjadi sarana (penularan) virus," ungkap Musa dalam siaran IG Live bersama Caren Delano, Minggu (14/6/2020) lalu, dikutip dari Suara.com.

Beli baju tanpa fitting sudah mulai diterapkan di sejumlah butik di New York, Amerika Serikat. Opsi ini kemudian dialihkan menjadi window shopping melalui platform digital.

Tips belanja. (Unsplash/Gyorgy Bakos)
Tips belanja. (Unsplash/Gyorgy Bakos)

Hal ini tentu bukan hanya mengubah kebiasaan konsumen, tapi juga mendorong pelaku bisnis fesyen untuk lebih kreatif dan beradaptasi dengan cepat agar dapat bersaing di industri.

"Jadi, brand akan membuat standar yang lebih bagus. Mau tidak mau kita (produsen) harus ciptakan sesuatu dengan sistem dan standar baru dan kuat. Itu jadi tantangan tentang apa yang kita lakukan sebagai retailer maupun pembuat koleksi," kata Musa menerangkan.

Selain membeli pakaian tanpa fitting, fashion show secara virtual pun diprediksi mulai diperkenalkan dan dilakukan oleh rumah mode dunia.

Menurut desainer yang sudah 30 tahun berkecimpung di dunia fesyen Tanah Air itu, fashion show virtual adalah perubahan yang tak terelakkan menyusul dampak dari pandemi Covid-19 ini.

Ilustrasi fashion show. (Unsplash/Raden Prasetya)
Ilustrasi fashion show. (Unsplash/Raden Prasetya)

Ia berharap, fashion show virtual dapat mengembalikan esensi dari perhelatan tersebut, yakni memperkenalkan produk, brand, dan mempererat hubungan bisnis antara produsen dan klien (konsumen).

"Itu penyesuaian yang harus terjadi. Melakukan fashion show juga harus sesuai kemampuan brand, bukan hanya sebagai social event, melainkan business (fesyen itu sendiri)," imbuhnya. (*Vania Rossa)

Terkait

Terkini