Sabtu, 04 Juli 2020

Maggie Hutauruk-Eddy, Desainer Kebanggaan Tanah Air Melenggang di NYFW 2020

Maggie Hutauruk-Eddy menyajikan karya unik di panggung New York Fashion Week 2020.

Rima Sekarani Imamun Nissa
cloud_download Baca offline
Maggie Hutauruk-Eddy. (Suara.com/Frieda Isyana)
Maggie Hutauruk-Eddy. (Suara.com/Frieda Isyana)

Dewiku.com - Desainer yang membawa tema out-of-the-box dengan warna yang berani mungkin sudah biasa dan sering kita lihat melenggang di panggung dunia. Namun, bagaimana dengan desainer yang memadupadankan keduanya dengan bahan-bahan yang tidak umum seperti karung goni atau karung bekas tepung terigu?

Maggie Hutauruk-Eddy membuktikannya dengan membawa kombinasi 'ajib' tersebut ke panggung New York Fashion Week 2020. Perempuan kelahiran 31 Maret ini membawakan karyanya yang bertajuk Liga dari mereknya 2Madison Avenue.

Beberapa karyanya memanfaatkan karung goni bekas dengan memejeng gambar wajah orang-orang berpengaruh seperti Presiden RI Joko Widodo, Mantan Menteri Perikanan dan Kelautan Susi Pudjiastuti, aktivis Swedia Greta Thunberg dan Presiden AS Donald Trump. 

Ini bukan kali pertama Maggie, sapaannya, melenggang di panggung NYFW dan menampilkan karya dari barang bekas. Sebelumnya ia juga ramai diperbincangkan karena memakai karung bekas tepung terigu Segitiga Biru dan kerap membawa pesan-pesan isu lingkungan.

Maggie berkecimpung di dunia fesyen sudah cukup lama. Hanya saja, ia baru berani merintis merek fesyennya sendiri di tahun 2016.

"Dari kecil saya senang seni dan berbagai hal terkait kesenian. Saya lebih bisa membuat lukisan dulu sebelum bisa membaca-tulis. Saya sempat kuliah seni murni dulu di AS, namun atas arahan ayah saya almarhum, saya pindah ke desain fesyen. Mungkin supaya saya tidak tambah 'aneh'," ungkapnya kepada Suara.com---jaringan Dewiku.com, Jumat (28/2/2020) lalu.

Perkenalannya dengan panggung NYFW bermula kala sebuah institusi yang kebetulan saat itu dipercaya untuk mengkurasi desainer-desainer Indonesia untuk tampil di NYFW menghubunginya.

Busana karya Maggie Hutauruk. (Instagram/@2maggieson)
Busana karya Maggie Hutauruk. (Instagram/@2maggieson)

Tidak hanya brand dan produknya yang ditinjau, konsep koleksi juga harus diajukan terlebih dahulu sebelum disetujui bisa mengambil bagian di show ini.

Selain NYFW, Maggie juga pernah tampil di Jakarta, baik independent show maupun secara kolektif seperti Jakarta Modest Fashion Week dan Bali Fashion Week.

Saat ditanyai mengapa karyanya begitu 'berbeda', Maggie menjawab tiap karya adalah ekspresi seni dari dirinya dan busana bukan sekadar penutup badan saja. Setiap pelanggan 2Madison Avenue pun menjadi muse dan inspirasi baginya.

"Fesyen adalah ekspresi diri, dan fesyen adalah pencerminan siapa kita. Kalau kita mau mengenal karakter atau mood seseorang, lihatlah apa yang dikenakannya. Jangan lihat harganya, itu semu. Lihat apa yang dikenakannya dan coba telusuri kepribadiannya dari situ," kata dia.

Ia juga tidak pernah memedulikan tren, semua buah karyanya adalah hasil ide spontan yang muncul di kepalanya. Belum lagi respons negatif yang ia terima soal karyanya yang memang tak biasa. Namun, ia yakin apresiasi terhadap fesyen atau karya yang unik akan semakin baik.

Maggie sangat berharap bahwa industri fesyen Indonesia ke depan dapat mengedepankan kejujuran. Baginya, segala sesuatu yang dilakukan dengan hati bersih dan kejujuran, pasti akan mendatangkan rejeki yang sesuai tepat pada waktunya.

"Saya banyak melalui fase pahit dimana saya tertipu atau dirugikan oleh pihak-pihak tertentu. Saya tahu bukan hanya saya yang melalui hal ini. Banyak teman-teman kreatif yang juga melalui hal pahit ini," ujar ibu dua anak itu.

"Saya berharap para pemain di industri kreatif Indonesia memiliki pemahaman yang sama, dan menjaga agar lahan industri kreatif Indonesia bisa menjadi lahan yang aman, jujur, dan bisa mensejahterakan banyak orang yang terlibat di dalamnya," imbuhnya.

Ia juga menyarankan para desainer Indonesia untuk tidak lupa menggunakan platform seperti media sosial dan koneksi-koneksi dengan figur publik untuk menyuarakan karyanya.

"Yang buat saya gemas adalah persepsi bangsa kita terhadap karya lokal. Yang mengatakan kalau kalau lokal harus murah atau yang mengatakan kurang keren kalau made in Indonesia," ujar perempuan lulusan Rhode Island School of Design ini. (*Frieda Isyana Putri)

Terkait

Terkini