Selasa, 18 Juni 2019

Sombong, Pangeran Malaysia Dikritik Netizen karena Bahas Baju Kerajaan

Pangeran Malaysia ini bahkan menyamakan rakyatnya dengan burung pipit.

Rima Sekarani Imamun Nissa | Rima Suliastini
Pangeran Malaysia. (Instagram/@hrhcrownprinceofjohor)
Pangeran Malaysia. (Instagram/@hrhcrownprinceofjohor)

Dewiku.com - Seorang Pangeran Malaysia sedang jadi bulan-bulanan netizen karena dinilai terlalu sombong ketika berbicara tentang baju kerajaan Johor. Ya, Pangeran dari Johor ini mengungkapkan jika dia tak suka baju tradisi keluarga kerajaan yang bernama Baju Teluk Belanga dipakai sembarangan.

Melalui akun Twitter @NasirPasir, pangeran bernama Tunku Mahkota Johor Tunku Ismail Ibni Sultan Ibrahim ini mengunggah foto keluarga yang tengah menggunakan baju kerajaan. Dia pun menuliskan kata-kata tentang budaya keluarga dan tradisi.

"Ini adalah pakaian tradisi keluarga Di Raja Johor. Identity melambangkan keluarga Sultan Ibrahim dan kerabat damping. Keluarga yang memerintah. The rulers bloodline," tulis dia.

Pangeran berjambang ini melanjutkan jika Baju Teluk Belanga tak bisa dipakai sembarangan. Rupanya pangeran Malaysia ini mulai gerah karena banyak orang yang meulai meniru gaya berbusana seperti ini.

"Hari ini ramai orang cuba pakai gaya keluarga di raja Johor," lanjutnya. Tak berhenti di situ, dia juga menulis jika banyak orang ingin mencoba jadi raja.

Unggahan Pangeran Malaysia. (Twitter/@NasirPasir)
Unggahan Pangeran Malaysia. (Twitter/@NasirPasir)

"Saya yang anak raja ni pun apabila tersilap langkah, saya ditegur oleh Almarhum atok saya. Kau jangan lupa, helang dan pipit terbang tak sama tinggi. Kau baik tahu tepat masing-masing dan angan angan tu rendahkan sikit daripada rumput," ungkapnya.

Tentu saja netizen tak tinggal diam melihat unggahan sang Pangeran Malaysia. Ada yang menyindirnya dan menulis jika pakaian bukan hal yang dibawa mati. Seorang raja pun jika meninggal hanya akan berbalut kain kafan.

Dilansir dari berbagai sumber, Baju Teluk Belanga adalah baju yang digunakan secara resmi tahun 1866. Saat itu, Sultan Abubakar dari Johor merayakan perpindahan ibu kota kesultanan dari Teluk Belanga, Singapura, ke Johor Baru di Malaysia.

Terkait

Terkini