Minggu, 22 September 2019

Musim Panas, Ademnya Bahan Linen Jadi Idola

Kain linen nyaman dan terasa adem saat dikenakan.

Rima Sekarani Imamun Nissa
Penggunaan sunscreen bermanfaat melindungi kulit dari paparan sinar matahari. (Unsplash/qi bin)
Penggunaan sunscreen bermanfaat melindungi kulit dari paparan sinar matahari. (Unsplash/qi bin)

Dewiku.com - Tren dalam dunia mode seakan datang dan pergi. Apa yang sudah menjadi tren di masa lalu, bisa kembali diminati banyak orang pada saat ini. Begitu pula linen. Kain yang keren karena selalu membuat pemakainya merasa dingin.

Kain lembut ini sebenarnya diperuntukkan bagi perabot rumah tangga dan seprai. Tetapi pada 1990-an, kain linen telah menjadi bahan baju saat liburan musim panas.

Ya, ini semua karena kemampuan linen mendinginkan tubuh saat cuaca panas di pinggir pantai atau kolam renang. Biasanya, orang-orang menggunakan kemeja 'boyfriend-style' sebagai luaran dari bikini mereka.

Sementara itu, para remaja lebih senang tidak mengancingkan kemeja linen mereka dan mengikatnya di tengah bagian tubuh dengan gaya ala Mr Ripley.

Pada masa sekarang, menurut platform pencarian mode global Lyst, pencarian linen terus meningkat sejak Januari 2019 hingga Mei ini jumlahnya naik mencapai 46 persen.

Bahan linen digunakan di hampir seluruh landasan panggung mode Musim Semi/Musim Panas 2019, mulai dari celana paisley yang berputar-putar di Zimmerman dan setelan rok Working Girl di Tibi.

Ilustrasi kain linen. [Shutterstock]
Ilustrasi kain linen. [Shutterstock]

Di tempat lain, linen menawarkan banyak penggemar selebritas, termasuk Kate Moss, Jennifer Aniston, dan Elle Fanning, yang mengenakannya di Festival Film Cannes tahun ini. Mereka memakai setelan celana linen putih yang longgar.

Ada pula sejumlah merek butik, seperti Palmier London, Three Graces London, dan Faithfull the Brand, yang sedang membayangkan kembali kain dalam bentuk dan gaya kontemporer.

"Linen adalah kain yang sudah tua, alami, dan tahan lama. Sangat nyaman dalam cuaca panas sehingga telah menjadi standar dalam banyak koleksi musim panas desainer," ungkap desainer Anna Berkeley.

"Meskipun terkadang kita masih melihat sedikit tampilan 'mummi' dalam bahan itu, aku suka label seperti Johanna Sands, Jacquemus dan Apiece Apart mengolahnya untuk membuatnya terasa modern," kata dia lagi.

Tessa Holladay, salah satu pendiri Palmier London, mengatakan kepada The Independent bahwa ia melihat linen muncul kembali beberapa tahun yang lalu di Australia. Mererek-merek seperti Posse, Arthur the Label, dan Rowie menciptakan potongan-potongan unik dan mudah dipakai dari kain.

Kain linen. (Unsplash/Micheile Henderson)
Kain linen. (Unsplash/Micheile Henderson)

“Jelas ini adalah sesuatu yang lebih alami bagi Australia, yang menikmati iklim yang lebih hangat dan budaya yang lebih berbasis pantai, tetapi juga menarik hati kami di sini di Inggris. Sepanjang musim panas 2017, kami memiliki banyak teman yang menghabiskan banyak uang untuk mengimpor kain linen cantik ini dari belahan dunia lain," jelas dia.

"Terinspirasi oleh merek-merek ini, linen menjadi bahan pokok lemari pakaian kami, Chloe (pendiri Palmier lainnya) dan saya memutuskan untuk menyelidiki kemungkinan mengembangkan tren di Inggris, menggunakan produsen Eropa dan memperkenalkan sentuhan London," ujarnya kemudian.

Duo ini meluncurkan mereknya pada musim semi 2018. Popularitasnya telah meningkat sejak saat itu, terlebih dengan bantuan influencer mode utama termasuk Lucy Williams dan Olivia Purvis. Palmier pun sebagai label pilihan untuk set gaya Instagram dan ribuan pengikut lainnya.

Bukan cuma kelebihan estetika dan fungsinya yang mendinginkan, daya tarik linen juga terletak pada bahannya yang terbuat dari tanaman rami dan menjadi sangat berkelanjutan.

Kain linen. (Pixabay/jacqueline macou)
Kain linen. (Pixabay/jacqueline macou)

"Linen adalah salah satu kain mode paling biodegradable yang tersedia. Setiap bagian dari tanaman rami yang terbuat dari linen dapat digunakan, jadi tidak ada yang terbuang. Rami juga merupakan tanaman yang sangat tangguh dan dapat tumbuh di tanah yang buruk dengan konsumsi air yang jauh lebih sedikit daripada kapas," papar Holladay.

Faktanya, kata dia, Organisasi Pangan dan Pertanian PBB menyatakan bahwa rami menggunakan pestisida 13 kali lebih sedikit daripada kentang. Namun, hanya sekitar satu persen dari konsumsi serat pakaian dunia.

"Misi kami adalah untuk mengubah itu!" ungkap dia.

Berkat cara pembuatannya pula, linen juga sangat tahan lama, jelas sejarawan mode Dr Kimberly Chrisman-Campbell. Dia menggambarkan linen sebagai investasi yang sangat baik.

"Linen adalah salah satu bahan pakaian tertua, dipakai di Mesir kuno dan digunakan di barat untuk pakaian dalam dan tempat tidur karena bisa dicuci," katanya, dikutip dari The Independent.

"Ini jauh lebih berkelanjutan daripada katun dan bertahan selamanya. Jadi ini adalah investasi yang sangat baik," tambahnya kemudian. (Suara.com/Dinda Rachmawati)

Terkait

Terkini