Jum'at, 30 Oktober 2020

Dituntut Jaga Keperawanan, Ratusan Perempuan Rela Bayar Operasi Rp 50 Juta

Banyak orang menganggap bahwa masih perawan di malam pertama pernikahan sangatlah penting.

Rima Sekarani Imamun Nissa
cloud_download Baca offline
Ilustrasi organ intim wanita. (Pixabay/StockSnap)
Ilustrasi organ intim wanita. (Pixabay/StockSnap)

Dewiku.com - Ratusan orang menjalani operasi keperawanan atau hymenoplasty di Inggris setiap tahun. Mereka kebanyakan ingin menunjukkan bahwa dirinya masih perawan pada malam pertama pernikahan.

Melansir Daily Star, Senin (13/1/2020) kemarin, industri 'keperawanan' berkembang pesat dalam beberapa tahun belakangan. Hal itu berkaitan dengan tuntutan bahwa perempuan tak boleh berhubungan seks sebelum menikah. Mereka seolah harus terbukti perawan di malam pertama.

Banyak perempuan datang Inggris untuk operasi hymenoplasty. Prosedur ini membikin mereka seolah memiliki selaput dara yang belum rusak, mengingat bagian itu biasanya jadi patokan tanda keperawanan.

Menurut penyelidikan Sunday Times, ada 22 klinik swasta yang menawarkan hymenoplasty. Sebagian besar berada di London.

Tidak ada informasi resmi mengenai besar biaya operasi keperawanan. Namun, angkanya diyakini bisa mencapai 3.000 poundsterling atau sekitar Rp53,5 juta.

Tren pernikahan 2020. (Pexels/Jonathan Borba)
Ilustrasi pernikahan. (Pexels/Jonathan Borba)

Meski banyak peminatnya, hymenoplasty mendapat tentangan dari banyak pihak pula. Dr.Leila Frodsham dari Royal College of Obstetricians and Gynaecologists mengatakan upaya perbaikan selaput dara mengabadikan mitos berbahaya tentang keperawanan.

"Saya pikir orang bakal terkejut mengetahui hal seperti ini terjadi," kata dia.

"Ada banyak orang menghasilkan banyak uang dari wanita yang sangat rentan," lanjut dia.

Ilustrasi seorang perempuan merasakan sakit di area vagina. [shutterstock]
Ilustrasi organ intim perempuan. [shutterstock]

Sementara itu, Direktur MAS Gynecology, Mohammad Masood, mengatakan permintaan prosedur terkait di klinik Harley Street miliknya sudah meningkat hingga empat kali lipat sejak 2014.

"Beberapa gadis mengalami situasi di mana kalau mereka tidak berdarah, ada stigma tertentu dan keyakinan bahwa tidak mungkin pernikahan akan bertahan," ujar Masood kepada The Sun, masih dilansir dari Daily Star.

Terkait

Terkini