Sabtu, 07 Desember 2019

Tradisi Melegenda, Wanita Suku Yao Cuma Potong Rambut Sekali Seumur Hidup

Rambut panjang mereka pun menjadi daya tarik tersendiri bagi turis.

Rima Sekarani Imamun Nissa | Yasinta Rahmawati
Ilustrasi perempuan berambut panjang. (Pixabay/Karolina Grabowska)
Ilustrasi perempuan berambut panjang. (Pixabay/Karolina Grabowska)

Dewiku.com - Potong rambut tidak menjadi kebiasaan lumrah bagi para wanita di Desa Huan Luo, Guangxi, China. Kabarnya, mereka cuma diperbolehkan memotong rambut sekali seumur hidup.

Dilansir dari Vogue, wanita-wanita itu berasal dari Suku Yao. Mereka diketahui masih memegang upacara tradisional di mana hanya boleh memotong rambut di usia 18 tahun. Setelah itu, rambut dibiarkan panjang dan dikucir dengan kepangan rumit tradisional khas Suku Yao.

Umumnya wanita yang belum menikah membungkus rambut mereka ke dalam kain yang diikat di kepala. Bagi mereka yang sudah menikah, lebih menyukai gaya rambut yang disanggul besar di atas kepala.

Sampai 1980, tradisi rambut panjang di suku Yao masih sangat kental. Bahkan seorang pria yang melihat gadis dengan rambut terurai, mesti dihukum untuk melayani keluarga gadis itu selama tiga tahun.

Namun kini tradisi itu sudah tidak berlaku lagi meski rambut panjang masih dipertahankan oleh banyak penduduk. Rambut panjang wanita di sana malah menjadi magnet sendiri untuk turis lokal maupun mancanegara.

Rambut panjang wanita suku Yao. (Instagram//@joyceszeng)
Rambut panjang wanita suku Yao. (Instagram//@joyceszeng)

Tentunya bukan hal mudah merawat rambut sepanjang itu. Ada perawatan khusus yang mereka lakukan, yaitu merendam rambut ke dalam ramuan tradisional, lalu menyisirnya dengan sisir kayu agar ramuan meresap dari ujung hingga akar rambut.

Tujuan perawatan rambut itu tentu saja agar rambut tetap berkilau alami dan tetap hitam pekat, bahkan pada wanita yang sudah tua.

Perempuan berambut panjang. (Unsplash/freestocks.org)
Perempuan berambut panjang. (Unsplash/freestocks.org)

Ramuan samponya terdiri dari beras yang ditumbuk dengan air di dalam pot tanah liat besar, kemudian direbus hingga mendidih. Setelah itu, campur dengan teh bran, akar fleeceflower, dan jahe. Semua bahan diaduk dan dibiarkan terfermentasi di wadah tertutup selama 3-4 hari.

Terkait

Terkini